Informasi

  • Author: Admin
  • Created date: 2025-08-01 08:39:57

PANGGILAN JIWA GURU PROFESIONAL DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA

Kehidupan umat manusia di muka bumi ini tidak akan lepas dari apa yang disebut dengan pendidikan. Sepanjang sejarah kehidupan manusia, pendidikan selalu menjadi isu yang tak pernah bosan untuk dibahas dan tak pernah kering dari berbagai ide serta perkembangannya. Karena itu, pembahasan pendidikan cukup prospektif bagi kehidupan umat manusia.
Pembahasan pendidikan tidak akan lepas dari kata Guru. Menurut Undang-Undang Guru dan Dosen No. 14 Tahu 2005, bahwa guru dan dosen mempunyai fungsi, peran, dan kedudukan yang sangat strategis dalam pembangunan nasional dalam bidang pendidikan. Sehingga, perlu dikembangkan sebagai profesi yang bermartabat. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.
Guru professional sejatinya secara toatal mampu menghadapi segala persoalan yang ada dihadapannya. Seberapa besar gaji dan tunjangan yang diterima mampu menghasilkan seberapa prodak yang dihasilkan dari gaji dan tunjangan itu. Untuk mewujudkannya, diperlukan percepatan semangat dan etos kerja yang tinggi spirit of excellence , yang akan mengungkit bekerja dengan penuh semangat dan bekerja dengan usaha terbaik, Walk the extra mils. 100 % usaha adalah untuk 100% gaji, dan 100% usaha untuk career development Work beyond the scope of work.
Seorang guru yang memilikii etos kerja yang tinggi akan senantiasa melayani peserta didik kalau pun mereka tidak kunjung mengerti apa yang kita jelaskan, dan senantiasa memberika senyuman manakala murid murid sering berulah dan ribut di kelas. Ia akan tetap bersemangat mendatangi kelasnya kalaupun jauh dari tempat tinggalnya, walau pun harus pergi pagi pulang petang, Ia akan tetap berjalan cepat bahkan tancap gas dengan kuat demi menghampiri murid murid tercintanya, kalaupu jalan berliku, berkelok, bergelombang naik gunung turun gunung. ia akan mampu menyediakan cadangan energi, agar tetap lembut menghadapi murud kalau pun membuat kening berkerut, karena ia mengajar dengan panggilan jiwanya.
Apalagi sekarang guru dihadapkan dengan kurikulum merdeka, guru dituntut untuk bisa memahami diperensiasi dalam pembelajaran, semisal dalam gaya belajar. Secara umum gaya belajar ada tiga, yaitu: 1). Visual: belajar dengan melihat (misalnya melalui materi yang berupa gambar, menampilkan diagram, power point, catatan, peta, graphic organizer ); 2) Auditori: belajar dengan mendengar (misalnya mendengarkan penjelasan guru, membaca dengan keras, mendengarkan pendapat saat berdiskusi, mendengarkan musik); 3). kinestetik: belajar sambil melakukan (misalnya bergerak dan meregangkan tubuh, kegiatan hands on, dsb). Atau berdasarkan kecerdasan majemuk (multiple intelligences): visual-spasial, musical, bodily-kinestetik, interpersonal, anintrapersonal, verbal-linguistik, naturalis, logic matematika.
Mengingat bahwa murid-murid kita memiliki gaya belajar yang berbeda-beda, maka penting bagi guru untuk berusaha untuk menggunakan kombinasi gaya mengajar. Jika tidak, ia akan kecewa, marah, jenuh dan akhirnya guru keluar kelas, ngobrol di ruang guru, nongkrong di pos satpam membicarakan persoalan yang tidak ada kaitanya dengan dunia pendidikan apalagi untuk kemajuan lembaga dan perkembangan peserta didiknya. Semoga, ini tidak sering terjadi.
Bagi seorang guru, yang paling menentukan kesungguhan mengajar bukanlah gaji, meski gaji yang tidak mencukupi kebutuhan dasar memang mengganggu ketenangan dan totalitas mengajar. Sebaliknya, bertambahnya penghasilan yang tidak diiringi oleh kuatnya komitmen sebagai guru, tidak cukup memadai untuk membuat seoarang guru mengajar dengan totalitas. Untuk mewujudkannya, diperlukan spirit, motivasi dan prinsip kerja yang kuat: bekerja dengan penuh semangat, bekerja dengan usaha terbaik, kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, dan kerja dengan tuntas. Bekerja tidak hanya memenuhi to have, tapi bekerja adalah to be dan bekerja adalah to valency. Bekerja bukan hanya untuk apa dan seberapa banyak yang akan kita miliki yang bersifat materi dan kesenangan duniawi, tetapi lebih dari itu bekerja adalah aktualisasi diri yang dikaitkan dengan memanfatkan kelebihan yang kita miliki dan bekerja adalah untuk nilai atau tingkat kualitas diri seseorang dalam mengarahkan hidupnya yang dikaitkan dengan keseluruhan kapasitas yang ada dalam diri. Sehingga, kita akan masuk pada paradigma kerja unggul (Profesional): Kerja adalah rahmat, bekerja tulus penuh rasa syukur; Kerja adalah ibadah, bekerja dengan ikhlas jihad fi sabilillah; Kerja adalah seni, bekerja cerdas penuh kreativitas; Kerja adalah pelayanan, bekerja paripurna penuh kerendahan hati; Kerja adalah aktualisasi, bekerja keras penuh semangat; Kerja adalah panggilan jiwa, bekerja tuntas penuh integritas dan kerja adalah kemuliaan, bekerja terpuji penuh kehormatan.
Guru yang mengajar karena panggilan jiwanya dan memiliki misi mengantarkan anak didik nya kepada kehidupan yang lebih baik secara totalitas terkait dengan spiritual, sosial, kinestetis, dan intelektual, akan bisa mengalirkan energi positif kecerdasan, kemanusiaan, kemuliaan dan keislaman yang besar ke dada setiap muridnya. Semoga Allah memberikan kekuatan agar kita menjadi guru yang profesional, bersih dan melayani serta mampu mengimplementasikan lima budaya kerja, yakni: Integritas, Profesionalitas, Inovasi, Tanggungjawab dan Keteladanan. Lahaula wala quwwata illa billah.
Penulis:
H. Karman, S.Ag., M.Pd.I.,
Kepala MTsN 10 Ciamis